Perubahan Nyeri Haid (Dismonorhea) pada Pasien Paska Laparoskopi Adenomiomektomi

Indra Adi Susianto, Hervyasti Purwiandari

Abstract


Latar Belakang: Kejadian adenomyosis akhir-akhir ini meningkat pada wanita yang belum menikah dan belum pernah hamil (nuliigravid).Pengobatan untuk adenomyosis ada wanita yang masih ingin mempertahankan fertilitasnya adalah penggunaan non steroid antiinflamasi, terapi hormone berupa Gonadotropin Releasing hormone (GnRH) agonist, danazol atau Pil kontrasepsi, tetapi efek dari penggobatan ini adalah sementara dan nyeri haid seringkali tidak berkurang

Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui derajad nyeri dan kekambuhan kembali dismenore berat setelah tindakan laparoskopi adenomiomektomi pada pasien fokal adenomiosis yang tidak respon terhadap pengobatan medikamentosa.

Metode Penelitian ini merupakan penelitian kohort retrospektif pada pasien dengan kriteria inklusi adenomiosos fokal dengan derajad VAS (Visual Analog Scale) dismenore 9/10 yang gagal terapi dengan obat hipoestrogen. Dilakukan pemantauan setelah tindakan laparoskopi adenomiomektomi dan pemberian GnRh analog setiap bulan selama 6 bulan dan kemudian di pantau setiap 3 bulan untuk derajad VAS untuk dismenore selama 24 bulan kemudian.

Hasil: Dari 92 pasien (2012 – 2017) yang dilakukan laparoskopi adenomiomektomi, didapatkan 68,4 % terjadi penurunan VAS dismenore secara signifikan, 14,1 % terjadi kekambuhan kembali pada 12 bulan paska tindakan dan 1 % fluktuatif. Dengan rerata VAS dismenore antara 0.447 sampai 0.894 dalam rentang waktu 24 bulan paska tindakan. Didapatkan 13 pasien dengan kehamilan spontan dengan 21 % berakhir dengan abortus, 3 % melahirkan pervaginam dan hanya 1 % terjadi ruptura uteri pada trimester 2 kehamilan

Kesimpulan: Laparoskopi adenomiomektomi dapat menjadi terapi alternatif pada pasien adenomiosis dengan nilai VAS dismenore 9/10 yang gagal terapi hipoestrogen dan menginginkan fertilitas.


Keywords


adenomiosis, dismenore, laparoskopi, adenomiomektomi

References


Reber R. Adenomyosis. J Reprod Med. 1994;39:841– 853.

Van Praagh I. Conservative surgical treatment for adenomyosis uteri in young women: local excision and metroplasty. Can Med Assoc J. 1965;93:1174 –1175.

Hyams LL. Adenomyosis: Its conservative surgical treatment (hystero- plasty) in young women. NY J Med. 1952;52:2778 –2783.

Huskisson EC. Measurements of pain. Lancet. 1974;2:1127–1131.

The American Society for Reproductive Medicine. Revised American Society for Reproductive Medicine Classification of Endometriosis: 1996. Fertil Steril. 1997;67:817– 821.

Takeuchi H, Kinoshita K. Evaluation of adhesion formation after laparoscopic myomectomy by systematic second-look laparoscopy. Am Assoc Gynecol Laparosc. 2002;9:137–143.

Osada H, Seiji A, Taketani T, Yamamoto M. Surgical treatment for adenomyosis. Gynecol Obstet Surg. 2003;14:101–107.

Wood C. Surgical and medical treatment of adenomyosis. Hum Reprod Update. 1998;4:323–336.

Morita M, Asakawa Y, Nakakuma M, et al. Laparoscopic excision of myometrial adenomyomas in patients with adenomyosis uteri and main symptoms of severe dysmenorrhea and hypermenorrhea. A J Assoc Gynecol Laparosc. 2004;11:86 – 89.

Takeuchi H, Kuwatsuru R. The indications, surgical techniques, and limitations of laparoscopic myomectomy. JSLS. 2003;7:89 –95.

Takeuchi H, Kitade M, Kikuchi I, et al. Effect of vasopressin on blood flow and RI of the uterine during laparoscopic myomectomy. J Minim Invasive Gynecol. 2005;12:10 –11.




DOI: https://doi.org/10.24167/vit.v1i1.2968

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


p-ISSN : 2085-7683 | View My Stats