MORFOLOGI KAMPUNG UTAN BINTARO BERBASIS KEKERABATAN ETNIS BETAWI

Septana Bagus Pribadi, Atik Suprapti, Edward E Pandelaki, M Sahid Indraswara

Abstract


Morfologi Kampung Utan Bintaro merupakan cerminan adaptasi permukiman tradisional etnis Betawi di tengah tekanan urbanisasi dan gentrifikasi. Kampung ini, salah satu yang tertua di Kelurahan Pondok Pucung, Tangerang Selatan, kini terjepit oleh ekspansi perumahan Bintaro Jaya dan klaster elit, namun tetap bertahan dengan pola ruang organik dan jejaring kekerabatan yang kuat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan morfologi Kampung Utan Bintaro dan bagaimana kekerabatan etnis Betawi mempengaruhi transformasi ruang serta kepemilikan lahan kampung dengan menggunakan metode studi kasus kualitatif melalui observasi, analisis peta historis dan citra satelit, serta wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan perkembangan morfologi yang inkremental berbasis kekerabatan, ditandai pola jalan tidak beraturan, kaveling adaptif, dan kepadatan tinggi. Proses gentrifikasi berlangsung dalam tiga gelombang, dari intervensi pengembang besar pada akhir 1980-an, investasi kecil-menengah pada 1990-an hingga 2000-an, hingga munculnya klaster baru pasca 2010. Meskipun tekanan ekonomi dan segregasi spasial meningkat, komunitas lokal beradaptasi melalui pemadatan hunian, konversi ruang menjadi kontrakan dan usaha kecil, serta pemeliharaan kohesi sosial. Strategi tersebut menegaskan resiliensi urban kampung Betawi sekaligus pentingnya pengakuan nilai lokal dalam perencanaan kota yang inklusif dan berkelanjutan.

 


Keywords


Kampung Kota; Morfologi; Kekerabatan Betawi; Gentrifikasi Berlapis; Resiliensi Urban

References


Agyeman, J. (2005). Sustainable Communities and the Challenge of Environmental Justice. New York University Press.

Aryati, A., Antariksa, A., & Wardhani, D. K. (2012). Perubahan morfologi rumah tinggal di Kampung Arab Kota Malang (The morphological changes of the residential houses of Kampong Arab at Malang City). Tesa Arsitektur: Journal of Architectural Discourses, 10(1), 9–18.

Beatley, T., & Newman, P. (2009). Green Urbanism Down Under: Learning from Sustainable Communities in Australia. Island Press.

Caniggia, G., & Maffei, G. L. (2001). Architectural Composition and Building Typology: Interpreting Basic Building. Alinea Editrice.

Conzen, M. R. G. (1960). Alnwick, Northumberland: A Study in Town-Plan Analysis. Institute of British Geographers.

Dempsey, N., Bramley, G., Power, S., & Brown, C. (2011). The social dimension of sustainable development: Defining urban social sustainability. Sustainable Development, 19(5), 289–300.

Douglass, M. (2007). Globalization, Mega-projects and the Environment: Urban Form and Water in Jakarta. Environment and Urbanization, 19(1), 207–213.

Folke, C. (2006). Resilience: The emergence of a perspective for social–ecological systems analyses. Global Environmental Change, 16(3), 253–267.

Firman, T. (2008). Infrastructural development and gentrification in Jakarta. Habitat International, 32(2), 230–240.

Jabareen, Y. (2006). Sustainable Urban Forms: Their Typologies, Models, and Concepts. Journal of Planning Education and Research, 26(1), 38–52.

Lees, L., Shin, H. B., & López-Morales, E. (2016). Planetary Gentrification. Polity Press.

Lees, L., Slater, T., & Wyly, E. (2008). Gentrification. Routledge.

Maulana, M. H. (2023). Strategi adaptasi warga Kampung Pondok Pucung terhadap perkembangan wilayah Kota Tangerang Selatan. Skripsi, Univ. Pembangunan Jaya.

Meerow, S., Newell, J. P., & Stults, M. (2016). Defining urban resilience: A review. Landscape and Urban Planning, 147, 38–49.

Moudon, A. V. (1997). Urban morphology as an emerging interdisciplinary field. Urban Morphology, 1(1), 3–10.

Norberg-Schulz, C. (1980). Genius Loci: Towards a Phenomenology of Architecture. Rizzoli.

Rapoport, A. (1969). House Form and Culture. Prentice-Hall.

Shatkin, G. (2017). Cities for Profit: The Real Estate Turn in Asia’s Urban Politics. Cornell University Press.

Shaw, K., & Theobald, K. (2011). Resilient local government and climate change interventions in the UK. Local Environment, 16(1), 1–15.

Shirleyana, S., Hawken, S., & Sunindijo, R. Y. (2018). City of Kampung: Risk and Resilience in the Urban Communities of Surabaya. International Journal of Building Pathology and Adaptation, 36(5), 543–558.

Shirazi, M. R., & Keivani, R. (2019). Urban Social Sustainability: Theory, Policy and Practice. Urban Studies, 56(4), 767–785.

Silas, J. (1988). Arsitektur Kampung dan Kota di Indonesia. Surabaya: Bhakti Wira Satya.

Simone, A. (2010). City Life from Jakarta to Dakar: Movements at the Crossroads. Routledge.

Smith, N. (1979). Toward a theory of gentrification: A back to the city movement by capital, not people. Journal of the American Planning Association, 45(4), 538–548.

Soja, E. W. (2010). Seeking Spatial Justice. University of Minnesota Press.

Soini, K., & Dessein, J. (2016). Culture-sustainability relation: Towards a conceptual framework. Sustainability, 8(2), 167.

Trancik, R. (1986). Finding Lost Space: Theories of Urban Design. Wiley.

Turner, J. F. C. (1976). Housing by People: Towards Autonomy in Building Environments. Marion Boyars.

Wihadanto, A., Cahyadi, N. M. A. K., Prima, S. R., Permana, M., & Pamungkas, G. B. (2024). Tipologi kawasan kampung kota yang terjepit di Tangerang Selatan dalam perspektif spasial. Tataloka, 26(1), 63–76.

Yatmo, Y. A., & Atmodiwirjo, P. (2017). Space as a medium of everyday life in kampung kota. Journal of Architecture and Urbanism, 41(4), 277–286.




DOI: https://doi.org/10.24167/tesa.v23i2.14179

ISSN 1410-6094 (Print) | ISSN 2460-6367 (Media Online) | View My Stats

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.