TINGKAT KONSUMSI DAN DAMPAK EKONOMI GORENGAN DI KABUPATEN BANYUMAS
Abstract
Penelitian ini menganalisis tingkat konsumsi dan dampak ekonomi gorengan di Kabupaten Banyumas. Meskipun Indeks Ketahanan Pangan di wilayah ini berada pada kategori "Sangat Tahan," aspek pemanfaatan pangan masih menjadi masalah. Hal ini disebabkan oleh konsumsi minyak dan lemak yang melebihi batas ideal, yang berpotensi meningkatkan risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi. Dengan menggunakan metode convinience sampling terhadap 540 responden di 27 kecamatan, penelitian menemukan bahwa gorengan menempati posisi penting dalam pola konsumsi masyarakat, setara dengan sayuran, buah-buahan, dan rebusan. Tempe Mendoan adalah gorengan favorit, dipilih oleh 76% responden, dengan rata-rata konsumsi harian 2,2 buah per orang. Menariknya, tidak ditemukan hubungan signifikan antara tingkat pendapatan dan jumlah konsumsi. Secara ekonomi, konsumsi gorengan memiliki dampak yang signifikan, menciptakan perputaran uang tahunan hingga Rp 1,78 triliun. Hal ini tidak hanya berkontribusi besar terhadap PDRB lokal, tetapi juga menciptakan rantai pasokan yang kuat dari petani hingga pedagang dan mampu meningkatkan kesejahteraan mereka.
Full Text:
PDF (Bahasa Indonesia)DOI: https://doi.org/10.24167/praxis.v8i2.14298
View My Stats | ISSN 2622-9137 (media online)



