Hubungan antara Kepuasan Pernikahan dengan Kecemasan terhadap Menopause pada Individu yang Berada dalam Tahap Usia Menjelang Menopause

Puti Amalina, Melok Roro Kinanthi

Abstract


Meski menopause merupakan siklus alami, namun ternyata tidak semua perempuan dapat menerima hal ini dengan baik. Terdapat perempuan yang merasa cemas terhadap menopause. Intensitas kecemasan yang sedang, bahkan tinggi dapat menyebabkan depresi dan mengurangi kualitas hidup perempuan. Kecemasan, termasuk kecemasan terhadap menopause, jika tidak diatasi dan tidak dikendalikan dapat menimbulkan gangguan psikosomatis hingga depresi berat yang dapat menurunkan kualitas hidup perempuan. Untuk mengantisipasi terjadi hal tersebut, perlu dilakukan upaya pengembangan intervensi yang dapat memimalisir, mengantisipasi, dan menghilangkan kecemasan. Salah satu caranya adalah dengan mengidentifikasikan faktor-faktor apa saja yang berkorelasi dengan kecemasan terhadap menopause.
Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara kepuasan pernikahan dengan kecemasan terhadap menopause pada individu yang berada dalam tahap usia menjelang menopause. Penelitian ini melibatkan 100 orang perempuan yang masih menikah dan memilikisuami, serta berada dalam tahap usia menjelang menopause (40 – 48 tahun). Pemilihan partisipan dilakukan dengan teknik sampling yakni accidental sampling. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah ENRICH Marital Satisfaction (Fowers & Olson, 1993) dan alat ukur kecemasan terhadap menopause yang dikembangkan sendiri peneliti. Uji korelasi Pearson Product Moments pada variable kepuasan pernikahan dengan kecemasan terhadap menopause menghasilkan hubungan negatif yang signifikan diantara keduanya (r = -0,774; p < 0,05). Hal ini memiliki arti semakin tinggi kepuasan pernikahan, maka semakin rendah tingkat kecemasan terhadap menopause yang dirasakan partisipan. Sebaliknya, semakin rendah kepuasan pernikahan, maka semakin tinggi tingkat kecemasan terhadap menopause. Dengan demikian, kecemasan terhadap menopause dapat dikendalikan melalui pernikahan atau interaksi antara suami dan istri yang memuaskan. Peningkatan kualitas pernikahan menjadi sesuatu yang penting bagi pasutri pada usia paruh baya.

Save to Mendeley



Keywords


Menopause; Kepuasan Pernikahan; Kecemasan

Full Text:

download PDF

References


Acevedo, B., Aron, A., Fisher, H., & Brown, L. (2012). Neural correlates of marital satisfaction and well-being: reward, empathy, and affect. Clinical Neuropsychiatry, 9, 20-31.

Aprilia, N.I & Puspitasari, N. (2008). Faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan pada wanita perimenopause. The Indonesian Journal of Public Health, 4(1), 35-42.

Christiani, R. S., & Purnamaningsih, E.H. (2000). Hubungan persepsi tentang menopause dengan tingkat kecemasan pada wanita yang menghadapi menopause. Jurnal Psikologi, 2, 96 – 100.

Dehle, C. & Weiss, R. L. (1998). Sex differences in prospective associations between marital quality and depressed mood. Journal of Marriage and the Family, 60, 1002-1011.

Depkes. (2005). Terjadinya Pergeseran Umur Menopause. Diunduh dari http://www.itjen. depkes.

Faradilla, P. (2010). Kepuasan pernikahan suami yang memiliki istri berkarir. Diunduh dari http://psikologi. ub. ac. id/wp-content/uploads/2013/10/JURNAL5.

Fauziah, F & Widuri, Julianty (2007). Psikologi Abnormal Klinis Dewasa. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Fowers, B., & Olson, D. (1993). ENRICH marital satisfaction scale: A brief research and clinical tool. Journal of Family Psychology, 7 (2), 176-185.

Hanafiah, J. M. (1999). Meningkatkan Kualitas Hidup Wanita Menopause. Majalah Medika, No.1, Th XXV, 33-38.

Handayani, L. L. (2015). Hubungan Perubahan Fisik dengan Kecemasan pada Wanita Menopause di Dusun Gatak Bokoharjo, Prambanan, Sleman Yogyakarta. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Aisyiyah. Diunduh dari http://opac.unisayogya.ac.id/590/1/PDF%20NASKAH%20PUBLIKASI.pdf.

Hidayah, S.N., Hadi, M., & Atik, N.S. (2016). Tingkat kecemasan wanita usia 40-45 tahun menghadapi masa pramenopause di desa Tumpang Krasak, kecamatan Jati, kabupaten Kudus. Jurnal Kesehatan dan Kebidanan, 6(1), 54-64.

Prasetya M. R., Firmiana, M.E., & Rochimah, I. (2012). Peran religiusitas mengatasi kecemasan masa menopause. Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Humaniora, 1(3), 145-157.

Levenson, R. W., Carstensen, L. L., & Gottman, J. M. (1994). Long term marriage : Age, gender, and satisfaction. Psychology and Aging, 8(2), 301-313.

Muharam. (2007). Makalah disampaikan dalam Simposium Nasional Perkumpulan Menopause Indonesia (PERMI), Jakarta 21-22 April 2007.

Muntiah & Ni’amah, S. (2013). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kecemasan ibu menghadapi masa menopause di desa Boto, kecamatan Jakenan, kabupaten Pati. Jurnal Ilmu Kebidanan dan Kesehatan, 3(2), 69-74.

Nevid, J.S., Spencer, A., Rathus., & Greene, B. (2005). Psikologi Abnormal. Terjemahan Tim Psikologi Universitas Indonesia. Edisi Kelima. Jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Rostiana, T. & Kurniati, I.M.T. (2009). Kecemasan pada wanita yang menghadapi menopause. Jurnal Psikologi, 3(1), 76-86.

Sumpani, D. (2008). Kepuasan Pernikahan Ditinjau dari Kematangan Pribadi dan Kualitas Komunikasi. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta (Skripsi).

Salehi, F., & Shahhosseini, Z. (2017). Association between women’s marital satisfaction and anxiety during pregnancy. Psychiatric Behav Scie, In Press.

doi: 10.17795/ijpbs-7937. Diunduh dari cdn.neoscriber.org/cdn/dl/952e543e-

e707-11e6-9e28-6f8230b41146.

Sarason & Sarason. (2004). Abnormal Psychology: The Problem of Maladaptive Behavior, 9th Edition. New Jersey: Prentice Hall.

Sulistiyo, E. (2014). Hubungan antara Regulasi emosi dengan Kecemasan menghadapi Pertandingan. Diunduh dari http://eprints.ums.ac.id/37466/9/02.%20Naskah%20Publikasi.pdf.

Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Manajemen. Bandung: Alfabeta.




DOI: https://doi.org/10.24167/psiko.v16i1.935

Print ISSN : 1411-6073 | online ISSN : 2579-6321 View My Stats

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.